Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.” Yudas 1:22-23
Sebagai wanita, kita yang pernah melahirkan anak mengalami perjuangan dalam proses yang sangat melelahkan dan juga membahayakan. Ada ibu yang berkata seperti mau mati rasanya, seperti dilindas bull dozer. Tetapi kelahiran anaknya melenyapkan semua rasa sakit dan ganti dengan sukacita.
Apalagi dari hati Tuhan yang menciptakan, Dia tidak ingin manusia binasa. Bapa di surga berjuang beribu-ribu tahun dan mengorbankan Tuhan Yesus, AnakNya yang tunggal supaya yang percaya dan lahir baru selamat.
Dunia ini penuh ancaman yang mematikan. Penyakit kronik, jiwa yang sakit, isolasi, tekanan, prilaku jahat, tersesat dan terhilang yang bisa membuat hati jadi pahit / marah / kecewa dan ragu untuk ikut Tuhan Yesus bahkan sampai merenggut iman.
Dampak kehidupan yang ekstrem datang seperti api yang menyambar cepat. Yudas menyadari suatu urgensi dan mengajak kita membangun sikap seperti ‘merampas’ dengan belas kasihan.

Pertanyaannya, kalau kita tidak bisa melihat neraka dengan mata jasmani, bagaimana kita bisa memiliki kepedulian terhadap jiwa-jiwa yang terancam binasa?
Kita mungkin tidak melihat konsekuensi akhir dari dosa seseorang, tetapi kita bisa melihat perubahan hidupnya ketika ia mulai menjauh dari Tuhan.
Kita mungkin tidak melihat bahaya rohani yang sedang dihadapi anak2x, tetapi kita bisa melihat ketika anak itu mulai kehilangan kerinduan untuk berdoa, beribadah, dan hidup dalam kebenaran.
Kita mungkin tidak mengetahui keadaan akhir seseorang, tetapi kita bisa terus mengasihinya, mendoakannya, dan mengarahkan dia kepada Kristus.
Pendekatan dan checking one another untuk memeriksa kondisi hati adalah hal yang kita perlu lakukan berulang-ulang seperti perintah Tuhan di Ulangan 6:6-7.
Pendampingan seperti nenek Lois dan ibu Eunike dalam doa dan dukungan diperlukan apalagi banyak anak yang ditelantarkan, tanpa didikan iman dan hidup seenaknya saja.
Jangan hanya bertanya, “Apakah anak saya berhasil dalam pendidikan dan pekerjaannya?” Tanyakan juga, “Apakah anak saya sedang bertumbuh mengenal Tuhan?” Ada pribadi yang terlihat kuat di luar, tetapi menangis ketika sendirian. Ada yang tetap tersenyum di gereja, tetapi sedang kehilangan harapan. Ada yang masih datang beribadah, tetapi diam-diam mulai meragukan kasih Tuhan. Jangan cepat berkata, “Dia sudah dewasa. Itu urusannya sendiri.”
Mungkin Tuhan sedang menempatkan kita di dekatnya supaya kita menjadi sahabat yang mendengarkan, menopang, dan menolongnya kembali kepada Tuhan.
"Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan." Galatia 6:1
Galatia 6:1 mengajarkan bahwa orang yang jatuh hendaknya dipimpin kembali dalam roh lemah lembut. Jangan hanya menjadi pribadi yang mengetahui masalah orang lain. Jadilah pribadi yang dipakai Tuhan untuk membantu mereka menemukan jalan kembali.
Merampas waktu yang sia-sia digunakan untuk hal yang tidak membawa kita kepada kekekalan. Isilah dengan doa, belajar firman Tuhan bersama yang lain dengan membangun teladan dalam kasih, pengampunan, integritas, kerendahan hati, dan terus berharap.

Merampaslah dengan jangan takut ditolak untuk mengabarkan Injil. Kita tidak pernah tahu berapa banyak kehidupan yang dapat disentuh Tuhan melalui kita yang bersedia berdoa, mendengar, mengampuni, dan bertindak.
Tuhan Yesus tidak merubah perkataannya, "dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Matius 28:20
Haleluya!

"Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Matius 22:37–39
Sebagai wanita Tuhan, kita sering memiliki mimpi dan kerinduan yang besar. Kita ingin dipakai Tuhan lebih luas, keluarga kita berhasil, pelayanan berkembang, bahkan menjadi berkat bagi banyak orang. Tidak ada yang salah dengan berpikir global. Tuhan sendiri mempunyai hati bagi segala bangsa, suku, kaum, dan bahasa.
Tetapi terkadang mata kita terlalu fokus kepada sesuatu yang masih jauh di depan sampai kita melalaikan apa yang sudah Tuhan percayakan hari ini.

Kita ingin pelayanan yang lebih besar, tetapi bagaimana hubungan kita dengan orang di rumah? Kita mengejar keberhasilan dalam pekerjaan, tetapi apakah kita masih setia dan menjadi berkat di tempat kita bekerja sekarang? Jangan sampai kita sibuk mengejar sesuatu yang besar sehingga kehilangan kesetiaan dalam perkara yang sudah ada di tangan kita.
Yesus sebenarnya membuat panggilan hidup kita sangat sederhana: Love God. Love your neighbor. Love your household. Jangan overcomplicate things. Mulailah dari rumah. Kasihi suami, anak-anak, orang tua, dan keluarga yang Tuhan tempatkan bersama kita. Kemudian lihat sedikit lebih luas: tetangga, teman kerja, teman gereja, dan orang-orang yang kita jumpai setiap hari. Kita mungkin berpikir, “Bagaimana saya bisa menjadi berkat bagi bangsa-bangsa?” Tetapi Tuhan mungkin sedang berkata, “Bagaimana dengan orang yang Aku tempatkan tepat di depanmu?” Berpikir global boleh besar, tetapi bertindak lokal dimulai dari kesetiaan yang sederhana.
Dan dalam semuanya itu, jangan pernah kehilangan hati Tuhan. Bahkan dalam pelayanan, kita perlu terus memeriksa hati: Mengapa saya melakukan ini? Apakah karena saya mengasihi Tuhan dan manusia, atau karena ambisi, pengakuan, posisi, dan keinginan pribadi?
Hati Tuhan memang bagi dunia, segala bangsa, suku, ras, dan bahasa, tetapi kasih kepada dunia tidak boleh hanya menjadi sebuah slogan. Kasih itu harus terlihat dalam cara kita memperlakukan manusia yang Tuhan tempatkan di sekitar kita.

Jadi minggu ini, mari kita melihat lebih dekat. Asisten rumah tangga kita, supir, pelayan restoran, kasir supermarket, orang yang membersihkan meja kita, rekan kerja, bahkan orang yang mungkin sering kita abaikan, apakah mereka dapat melihat terang Kristus melalui kita? Jangan menunggu kesempatan yang besar untuk melakukan sesuatu yang besar bagi Tuhan. Bisa jadi ladang pelayanan yang Tuhan berikan kepada kita sudah ada di rumah, di tempat kerja, di restoran, atau di supermarket. Berpikirlah global, tetapi bertindaklah lokal. Kasihi Tuhan, kasihi sesama, dan mulailah dari orang yang ada di depan kita hari ini.
Tuhan Yesus memberkati.

