27-APR 2026 | VOL.87

Berdoa Sampai Api Tuhan Turun

Saat Elia berdiri di Gunung Karmel dan diperhadapkan dengan 450 nabi Baal, dia begitu berani dan memiliki keyakinan penuh. Alkitab bahkan mencatat di 1 Raja-Raja 18:27-28, “Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya: ”Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga.” Maka mereka memanggil lebih keras serta menoreh-noreh dirinya dengan pedang dan tombak, seperti kebiasaan mereka, sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka.”

Di saat banyak orang berseru tanpa jawaban, Elia datang dengan doa yang sederhana namun tepat sasaran: ”Ya Tuhan, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini. Jawablah aku, ya Tuhan, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya Tuhan, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali” (1 Raja-Raja 18:36-37).

Dan Tuhan menjawab, bukan dengan bisikan, tetapi dengan api yang turun dari langit. Ini mengingatkan kita bahwa kuasa doa bukan terletak pada panjang atau kerasnya doa kita, tetapi pada keselarasan hati dengan kehendak Tuhan. Doa yang benar bukan sekadar usaha manusia menyampaikan keinginan, tetapi titik bertemunya rencana Allah dan ketaatan kita.

Namun, ada juga satu hal yang menarik. Pasal berikutnya menunjukkan sisi lain dari Elia. Setelah kemenangan yang luar biasa itu, ia justru lari, ketakutan, kelelahan, bahkan berkata, “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku…” (1 Raja-Raja 19:4). Dari puncak kemenangan ke lembah keputusasaan, itu nyata terjadi pada seorang nabi besar. Ini mengingatkan kita bahwa memiliki iman yang kuat bukan berarti kita kebal dari rasa lelah, takut, atau rapuh.

Di sinilah kita belajar bahwa sikap hati dan motivasi yang benar itu penting, tetapi ketergantungan kita pada Tuhan harus terus dijaga setiap hari. Elia mengalami kejatuhan bukan karena ia kehilangan Tuhan, tetapi karena ia sejenak kehilangan kekuatan dari Tuhan. Kita pun sama, kita bisa melayani, berdoa, bahkan melihat mujizat, tetapi tetap bisa lelah jika kita tidak terus terhubung dan melekat kepada sumber kekuatan kita.

Karena itu, jangan lengah. Jangan hanya mencari “api Tuhan” di momen besar, tetapi carilah api Tuhan dalam rutinitas dan keseharian hidup kita. Saat kita kuat, tetaplah bersandar kepada Tuhan. Saat kita  lelah, tetaplah datang dan kembali kepada Tuhan. Tuhan yang menurunkan api di Karmel adalah Tuhan yang sama yang memberi makan, memulihkan, dan berbicara lembut kepada Elia di padang gurun. Kekuatan kita bukan terletak pada momen besar kemenangan, tetapi pada hubungan yang terus melekat dengan Tuhan setiap hari.


20-APR 2026 | VOL.86

Kemenangan Dalam Peperangan Rohani

Peperangan rohani adalah suatu hal yang nyata dari kehidupan setiap orang percaya. Selama kita masih hidup dalam dunia yang gelap ini, kita akan diperhadapkan dengan berbagai masalah persoalan, pergumulan yang menyerang hidup kita, hal-hal yang tidak terlihat dengan mata jasmani kita.

Efesus 6:12 berkata: "Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara."

Dari ayat ini kita bisa melihat dengan jelas bahwa kita ada dalam peperangan dan siapa lawan atau musuh kita. Musuh kita bukan suami, anak, mertua, tetangga, teman atau juga rekan sepelayanan. Alkitab mencatat bahwa sejak peristiwa taman Eden, musuh utama kita adalah Iblis (baca juga: Yohanes 10:10a).

(Perlu dicatat bahwa tidak semua masalah persoalan yang kita hadapi penyebabnya iblis). Namun Iblis bisa memakai orang-orang atau keadaan sekeliling kita untuk memanifestasi kejahatan melalui tipu muslihatnya. 

Beberapa hal yang perlu kita pahami untuk menang dalam peperangan rohani ini, antara lain:

1.) Mengetahui posisi kita dalam Kristus Yesus.

Setelah kita mengetahui siapa musuh kita, maka hal yang jauh lebih penting adalah mengetahui siapa kita dalam Kristus. Inilah kunci utama dalam peperangan rohani. Ketika kita tahu siapa kita dalam Kristus, maka kita tidak akan takut dan tidak akan mudah ditipu oleh iblis. Firman Tuhan jelas berkata bahwa dalam Kristus kita adalah anak-anak kerajaan Allah.

Yohanes 1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.

Lukas 10:19 "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu."

Lebih lagi, dalam Kristus, kita memiliki Roh Kudus Tuhan yang berdiam dalam hati kita dan yang akan selalu mengajari, memimpin, dan menuntun jalan hidup kita.

2.) Menggunakan seluruh perlengkapan senjata Allah

Efesus 6:13 berkata: "Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu..."

Perhatikan, untuk berperang, kita harus memakai seluruh, bukan sebagian dari perlengkapan senjata yang Tuhan berikan. Berdiri tegap, atau siap siaga, berikat pinggang atau hidup dalam kebenaran, berbaju zirah keadilan, berkasutkan kerelaan memberitakan injil damai sejahtera, gunakan perisai iman, terima ketopong keselamatan, memakai pedang roh, serta doa dengan tiada hentinya.

Hampir semua senjata tersebut di atas bersifat untuk pertahanan (defence), namun ada senjata yang gunanya untuk menyerang (offence) yaitu: Doa dalam roh dan Pedang Roh, yang adalah Firman Tuhan.

Ibrani 4:12 - "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun..."

Yesus sendiri setelah selesai berpuasa 40 hari dikatakan Dia lapar dan dicobai oleh Iblis dan Yesus menggunakan senjata Firman Tuhan.

"Tetapi Yesus menjawab: 'ADA TERTULIS: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.'" (Matius 4:4).

Setiap serangan ditangkis dengan firman Tuhan. Firman Tuhan atau Alkitab bukan sekedar untuk dibaca, tetapi untuk dipelajari dan dipahami kehebatan kuasa janji-janji Allah di dalamnya sebagai senjata yang ampuh dalam menyerang musuh.

Saya ingat ketika saya masih tinggal di Jakarta, satu pengalaman ketika pulang doa semalaman, saya naik angkot dan ditodong orang di terminal pulo gadung, yang menyuruh membuka cincin emas di jari saya; dengan spontan saya jawab: "Darah Yesus Tuhan berkuasa". Orang itu memainkan pisau lipatnya lalu bilang: orang kristen yah, orang kristen yah? Lalu dia pergi. Sungguh, Firman Tuhan dalam Wahyu 12 tentang kuasa Darah Yesus, Darah Domba Allah sangat ajaib.

2 Korintus 10:4”Karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng."

3.) Bertempur dari Posisi Kemenangan

Ini yang harus kita pegang yaitu kita tidak berjuang supaya menang, tetapi kita berperang dari posisi sudah menang di dalam Kristus.

Roma 8:37 - "Tetapi dalam semuanya ini kita lebih dari orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita."

Kolose 2:15 - "Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka."

Kemenangan Yesus di kayu Salib sudah menghancurkan semua pekerjaan si iblis. Bahkan Dia sudah mengalahkan maut, mengalahkan kuasa dosa serta semua kuasa kegelapan.

Efesus 2:6 - "Dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga."

Artinya, kita berperang bersama Kristus bukan dari perspektif duniawi tetapi dari 'heavenly places'. Dasyat sekali!

1 Korintus 15:57 - "Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.


Mari.

Sadari siapa kita dalam Kristus Yesus, lawan musuh dengan senjata Allah. Deklarasikan, nyanyikan serta sorakkan janji-janji firmanNya. Terima kemenangan yang sudah menjadi milikmu. Kita bukan hanya dianugerahkan sebagai pemenang melainkan lebih dari pemenang di dalam Kristus.

Nyanyikan lagu: Kemenangan terjadi disini! Haleluyah!

Tuhan Yesus memberkati!


13-APR 2026 | VOL.85

Mengalahkan Siasat Iblis

Shalom ibu-ibu terkasih, wanita paling berharga, pilihan Allah yang Maha Perkasa, senang sekali minggu ini kita berjumpa dalam renungan manna dimana kita akan membahas bagaimana untuk mengalahkan siasat iblis. 

Yesus saja dicobai di padang gurun, apalagi kita harus benar-benar waspada, hidup kudus, berjaga-jaga dan berdoa.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” - 1 Petrus 5:8

Kita harus kuat berdiri teguh dengan Firman Tuhan dan iman yang tidak tergoncangkan untuk melawan iblis dan menang, itu perlu keberanian. Saya berdoa ibu-ibu semua kuat di dalam Tuhan, amin!

1. Kenali musuh kita, siapa lawan kita.

Efesus 6:12 - “Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.”

Kita berperang bukan melawan darah dan daging, bukan manusianya tetapi roh-rohnya, kita rebut jiwanya untuk Tuhan. 

Pengalaman saya pribadi, puji nama Tuhan saya diberikan kepekaan untuk membedakan roh. Awalnya saya lari, sampai akhirnya Roh Kudus ajar saya untuk berhadapan muka dengan muka dengan seseorang, tetapi yang saya lihat adalah roh jahat yang menunggangi orang tersebut.

Yakobus 4:7 - "Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah iblis, maka ia akan lari dari padamu!"

Kenapa iblis bisa lari? Karena Roh yang ada di dalam orang percaya (Roh Kudus) lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia (1 Yohanes 4:4).

Jadi saya belajar hadapi, berdiri di atas kebenaran dan menjadi kuat di dalam kuasa Roh Kudus. Puji Tuhan akhirnya saya menang dan orang tersebut sekarang boleh berlari dalam panggilannya, sesuai dengan kehendak Allah. Puji nama Tuhan!

2. Mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah (Efesus 6:11-18).

Kunci kemenangan yang terutama adalah tunduk kepada Allah, menggunakan Firman Tuhan, hidup dalam doa, dan mengandalkan kuasa Roh Kudus untuk melawan tipu daya kegelapan.

Ketaatan dan penundukan kepada Allah adalah dasar perlawanan kepada iblis. Kita harus tahu kehendak Allah yang baik, yang berkenan dan yang sempurna.

Perlengkapan Senjata Allah:

  • Ikat Pinggang Kebenaran

  • Baju Zirah Keadilan

  • Kasut Kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera, yaitu kesediaan untuk memberitakan Injil (2 Timotius 4:2).

  • Perisai Iman, untuk memadamkan panah api dari si jahat.

  • Ketopong Keselamatan, yaitu mengingat kepastian keselamatan dalam Kristus

  • Pedang Roh, yaitu menggunakan Firman Tuhan untuk perlawanan.

  • Hidup dalam Doa dan Roh Kudus. Berdoa setiap waktu di dalam Roh (Efesus 6:18) membantu orang percaya tetap waspada dan kuat.

Menolak Tipu Daya Iblis.

Iblis sering menggunakan uang, ketidakjujuran, dan pikiran yang dibutakan (2 Korintus 4:3). Kemenangan Kristus Yesus telah mengalahkan iblis di kayu salib (Kolose 2:15). Orang percaya menang karena kuasa Yesus. Amin.

Mari ibu-ibu terkasih, kita bersatu dalam doa:

Bapa kami bersatu hati dengan tali kasih-Mu yang mengikat setiap kami. Berikan kami kekuatan dalam mengiring Engkau, teguhkan hati ibu-ibu semua untuk taat dan tunduk kepada-Mu. Berikan kami ketekunan untuk menjadi pilar-pilar Kristus, dan kami patahkan semua siasat iblis di dalam nama Tuhan Yesus. Perkuat kepekaan kami untuk waspada dan melawan iblis dengan iman yang teguh. Terima kasih Bapa, dimanapun ibu-ibu ditempatkan di kota masing-masing, kami boleh menjadi garam dan memancarkan terang-Mu yang ajaib. Di dalam nama Tuhan Yesus, semua yang percaya katakan amin.


06-APR 2026 | VOL.84

No Cross - No Crown

Di dunia saat ini, banyak orang ingin mahkota tanpa pikul salib. Kita ingin kemuliaan tanpa penderitaan, ingin kemenangan tanpa proses. Mendapatkan promosi tanpa ketaatan. Tetapi Kerajaan Allah memiliki pola yang berbeda, No Cross No Crown.

“Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah – yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan, yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.”  ‭‭Ibrani‬ ‭2‬:‭10‬ ‭TB‬‬

1. Dia Berjanji Akan Ada Mahkota 

2 Timotius 2:12 “Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia.”

Yakobus 1:12 “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.”

Allah tidak pernah lalai, Dia memberi upah atas kesetiaan umat-Nya.  Ada mahkota yang disediakan bagi orang percaya:

  • Mahkota Kehidupan → bagi yang bertahan dalam pencobaan

  • Mahkota Kebenaran → bagi yang merindukan kedatangan-Nya (2 Timotius 4:8)

  • Mahkota Kemuliaan → bagi gembala yang setia (1 Petrus 5:4)

Tetapi ada kebenaran yang sering tidak disukai: Mahkota tidak diberikan di awal, melainkan setelah ketekunan.

2. Upah Diberikan Setelah Ketekunan

“jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita;” ‭‭2 Timotius‬ ‭2‬:‭12‬ ‭TB‬‬

Ketekunan bersifat aktif, tetap setia di saat sulit, tetap percaya saat doa belum dijawab, tetap berdiri teguh saat hidup digoncang. Ketekunan akan mengampuni saat disakiti, akan tetap menyembah dalam kesakitan, akan taat walaupun harus membayar harga. 

“Semua orang bisa memulai, tetapi tidak semua orang menyelesaikan.”

Berkat datang bukan karena kita menghindari pencobaan, tetapi karena kita melewati pencobaan dengan iman. 

Yesus berkata: “Pikul salibmu setiap hari…”

Memilih berintegritas saat lebih mudah berkompromi, tetap percaya di tengah ketidakpastian, melepaskan kendali dan percaya Tuhan, mengasihi orang yang menyakiti kita. Salib adalah tempat kehendak kita mati, supaya kehendak Tuhan hidup.

Jangan berhenti di tengah perjalanan mengerjakan salibmu, karena salib bukan akhir hidupmu, rasa sakitmu tidak sia-sia, proses berjalan akan  sesuatu yang kekal.

Katakan dengan iman, “Jika aku bertekun, aku akan memerintah bersama Dia.”

Selamat Paskah!