Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buahnya yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun." Yakobus 1:2-4
Dalam ayat firman Tuhan Yakobus 1:2-4 tersebut, dijelaskan bahwa untuk menghasilkan ketekunan atau dalam kata lain keuletan diperlukan pembentukan. Pembentukan inilah yang diberi nama “ujian terhadap iman kita.” Oleh sebab itu Yakobus katakan “anggaplah sebagai suatu kebahagiaan.” , karena terlihat dari buahnya yang telah matang. Kita telah dibentuk menjadi sempurna, seperti Yesus. Dia utuh dan tidak kekurangan suatu apa pun.

Sebagai seorang ibu yang mempunyai anak sekolah dari SD naik ke SMP, atau dari SMP naik ke SMA tentu bangga melihat perjuangan mereka dibalik layar. Apa yang guru lihat di sekolah adalah hasil dari ujian, nilai yang baik atau buruk. Ketika anak kita mendapat nilai yang buruk, tentu kita sebagai orangtua tidak tinggal diam. Apa yang orangtua mau lihat adalah kerajinan mereka. Apakah mereka tekun belajar atau tidak.
"Barangsiapa yang menahankan rotan, ia itu benci akan anaknya, tetapi orang yang mengasihi akan anaknya itu mengajari dia pada masa mudanya." (Amsal 13:24). Ini bicara tentang kedisipilinan. Disiplin yang tegas dan penuh kasih adalah bentuk kepedulian orang tua untuk meluruskan karakter anak yang berperilaku salah.
Bagi seorang anak, kedisiplinan seakan membawa mereka keluar dari zona nyaman. Mereka mengira bahwa mereka ada dalam suatu pencobaan, rintangan, masalah besar. Sebagai orangtua, kita melihat hal disiplin adalah untuk mendidik mereka menjadi tekun dengan tujuan agar mereka mencapai masa depan yang baik. “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6)
Bukankah demikian apa yang kita alami sebagai orang percaya, dari awal kita mengalami pertobatan, mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat yang hidup? Tuhan tidak menjanjikan bahwa hidup bersamaNya akan selamanya mulus, nyaman dan tentram. Keuletan bukanlah hasil dari zona yang nyaman, melainkan buah dari iman yang diuji. Tuhan mau kita bertumbuh, menjadi dewasa rohani.
Pertumbuhan yang benar, sehat, dan menjadikan dewasa perlu makanan yang keras. “Sebab barangsiapa masih memerlukan susu, ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Makanan yang keras adalah untuk orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat." (Ibrani 5:13-14)

Mari, wanita-wanita Allah, kekasih Tuhan. Jangan kita menolak didikan Tuhan, dan jangan bosan akan peringatan-Nya. Seperti kita mendidik anak-anak kita, Tuhan memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya. (Amsal 3:11-12)
Tetaplah bertekun dan sabar. “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:11-12)
Tuhan Yesus memberkati.

Memang ibadah kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.“ 1 Timotius 6:6-8
Salah satu penyakit rohani terbesar zaman ini bukanlah kekurangan, melainkan perasaan TIDAK PERNAH CUKUP. Punya HP baru, ingin yang lebih baru. Punya gaji, ingin lebih besar. Inilah yang membuat banyak orang Kristen hidup dalam kekuatiran dan tidak bisa menikmati hidup.

Hari ini Tuhan mengingatkan kita untuk kembali belajar merasa CUKUP.
1. MERASA CUKUP ADALAH KEPUTUSAN, BUKAN KONDISI.
Filipi 4:11 - Paulus berkata, “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.“ Paulus menulis ini bukan dari istana, tapi dari PENJARA. Artinya rasa cukup tidak menunggu keadaan baik. Rasa cukup adalah belajar untuk berkata: “Tuhan, apa yang ada padaku hari ini, itu cukup karena Engkau ada bersamaku.“ Orang yang tidak belajar cukup, sekalipun diberi banyak, tetap akan merasa kurang.
CUKUP BUKAN SOAL JUMLAH, TAPI SOAL HATI. Dunia berkata: “Punya lebih banyak = bahagia.“ Firman Tuhan berkata: “Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu” Ibrani 13:5. Banyak orang memiliki banyak harta tapi hatinya kosong dan tidak pernah puas. Rasa cukup tidak datang dari rekening yang penuh, tapi dari hati yang penuh dengan Kristus.
2. BERSYUKUR ADALAH BUKTI KITA PERCAYA TUHAN MEMELIHARA KITA.
1 Tesalonika 5:18 – “Mengucap syukurlah dalam segala hal.” Mengapa kita sulit bersyukur? Karena kita fokus pada apa yang BELUM kita miliki, bukan pada apa yang SUDAH Tuhan beri. Bersyukur bukan hanya saat berkat melimpah. Bersyukur adalah saat kita di dalam kekurangan pun tetap berkata: “Tuhan itu baik.“ Hati yang bersyukur akan mengubah:
Keluh kesah menjadi pujian
Kekurangan menjadi berkat
Beban menjadi sukacita
Orang yang tidak bersyukur akan selalu merasa kurang. Orang yang bersyukur akan melihat bahwa bahkan dalam kekurangan, kasih setia Tuhan tetap cukup. Jangan tunggu berkelimpahan baru bersyukur, bersyukurlah maka kita akan berkelimpahan.
3. KUNCI MERASA CUKUP ADALAH MENGUTAMAKAN TUHAN, BUKAN HARTA.
Matius 6:33 - “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.“ Ketika Tuhan menjadi yang pertama, yang lain akan menjadi secukupnya. Ibrani 13:5 berkata, “Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, karena Allah telah berfirman: Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau.“
Kita bisa cukup karena kita punya janji: Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Selama kita punya Tuhan, kita tidak akan pernah kekurangan kasih, anugerah, dan pertolongan.

Mari hari ini kita belajar 3 hal praktis:
Hitung Berkatmu: Setiap pagi, sebutkan 3 hal yang patut kamu syukuri.
Berhenti Membandingkan: Berkat orang lain bukan ukuran berkatmu.
Berbagi Dari Kecukupan: Orang yang merasa cukup tidak pelit, ia justru murah hati.
Ingatlah: Bahagia bukan karena memiliki banyak, tetapi karena merasa cukup dengan yang ada dan bersyukur kepada Pemberinya.
Hari ini, berhentilah membandingkan hidupmu dengan orang lain. Hitung berkatmu, bukan kekuranganmu. Ketika Kristus cukup bagimu, kamu tidak akan kekurangan apapun.
Tuhan Yesus memberkati.

Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN." Maleakhi 3:3
Setiap manusia memiliki karakter yang berbeda-beda. Karakter seseorang terbentuk dari gabungan faktor internal dan faktor eksternal. Riset menunjukkan, bahwa ada dua faktor utama yang memengaruhi pembentukan karakter.
Pertama adalah genetik, yaitu sifat bawaan lahir dari orang tua yang memengaruhi cara kerja otak dan emosi. Kedua adalah lingkungan, yang terdiri dari empat aspek: Keluarga, yaitu pola asuh orang tua dan didikan awal di rumah; Pergaulan, yaitu teman, sekolah, dan tetangga yang memberi pengaruh pergaulan sehari-hari; Pengalaman hidup, yaitu peristiwa baik atau buruk yang pernah dialami turut membentuk cara pandang dan kebiasaan; Pendidikan dan budaya, yaitu nilai moral, norma, serta aturan yang diajarkan lewat sekolah atau masyarakat.
Ketika seseorang lahir baru, Tuhan mulai membentuk karakter kita agar karakter yang buruk semakin terkikis dan terus diperbaharui agar semakin serupa dengan karakter Kristus. Pembaharuan karakter bukan terjadi ketika keadaan sedang baik-baik saja. Sebaliknya karakter diperbaharui melalui tekanan, tantangan, penderitaan, serta kesulitan yang kita hadapi. Bila kita mengijinkan Tuhan memproses hidup kita, maka karakter-karakter buruk yang dimiliki manusia, yang berpusat pada kepentingan diri sendiri, meninggikan diri sendiri, dan segala yang buruk akan mengalami perubahan. Karakter-karakter yang negatif diubah menjadi karakter-karakter yang positif, yaitu kasih, sabar, setia, rendah hati, murah hati, pemaaf, dan segala yang baik. Hasil pembentukan kepribadian ini akhirnya muncul dalam wujud seperti menolong sesama, menyatakan kebaikan, melakukan segala sesuatu dengan tulus, tidak membenci, tidak mendendam, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tidak menipu, dsb.

Seperti buah anggur yang ditekan untuk menghasilkan anggur, seperti buah zaitun yang ditekan untuk menghasilkan minyak zaitun, maka satu-satunya jalan untuk menghasilkan karakter Kristus adalah melalui tekanan-tekanan yang menimpa kita. Tekanan bisa berupa fitnahan, disalahpahami, ditipu, dihianati, kehilangan pekerjaan, penyakit, kehilangan teman atau persahabatan, dan banyak pergumulan lainnya. Tanpa disadari jika kita bersedia melewati semua ini, kemampuan kita dalam mengasihi dan menunjukkan belas kasihan justru semakin dalam, dan kemampuan berempati mulai dibangun. Bercermin dari bangsa Israel yang karena terus-menerus berontak kepada Tuhan dan bersungut-sungut saat melewati padang belantara, maka Tuhan membiarkan bangsa Israel berputar-putar selama 40 tahun. Setelah dirasa cukup, mereka baru diijinkan masuk ke tanah perjanjian, Kanaan. Pelajaran yang bisa dipetik disini, bila kita cenderung berontak dan tidak bersedia diproses, bersungut-sungut dalam tekanan, maka hal ini akan menjadi kendala, dan pertumbuhan karakter kita mengalami stagnasi.
Cara Tuhan mengijinkan kita masuk dalam berbagai masalah yang menyakitkan, bukan berarti Tuhan tidak sayang pada kita. Itu adalah kesempatan yang berharga dimana Tuhan mendidik kita agar karakter kita bertumbuh. Didikan Tuhan merupakan bukti bahwa Dia mengasihi kita, seperti orang tua yang kadangkala harus mempraktekkan “tough love” supaya anaknya tumbuh menjadi anak tangguh, dapat diandalkan, dan dapat menjaga nama baik orang tua.
Roma 5:3-4 mengatakan, "Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Maksud dari ketekunan disini adalah tetap bertahan, tetap percaya, tetap teguh dan berserah pada Tuhan, bukan menjadi pahit, kecewa, atau bahkan menyalahkan dan meninggalkan Tuhan. Allah ingin setiap kita bertahan dalam kesulitan, karena inilah yang menghasilkan ketekunan, dan ketekunan akan menghasilkan tahan uji (karakter yang teruji). Ketika biji logam mulia dipanaskan dalam api, kotoran dan unsur-unsur lain muncul ke permukaan, dan dapat dibuang. Akhirnya akan dihasilkan emas yang murni. Panasnya api penderitaan dapat memperlihatkan karakter-karakter buruk yang masih melekat pada kita, dan itulah yang sedang Tuhan bersihkan sepanjang hidup kita agar karakter Kristus semakin tercermin melalui kita. Seorang pemurni emas bisa mengetahui kalau emas yang diproses sudah murni, ketika ia dapat melihat bayangan wajahnya sendiri di dalam emas tersebut. Demikian juga Tuhan mengakui kemurnian kita ketika diriNya tercermin dari kehidupan kita.
Pada akhirnya tahan uji menghasilkan pengharapan, yaitu keyakinan yang kokoh berdasarkan Firman dan karakter Allah. Seseorang dapat tetap memiliki pengharapan meskipun melewati perjalanan hidup yang terjal sekalipun, karena dengan apa yang ia alami ia semakin memahami bahwa Allah adalah Allah yang setia. Dia tidak pernah meninggalkan kita, bagi Dia tidak ada yang mustahil, tidak pernah ingkar janji, tidak pernah terlambat, selalu menegakkan keadilan, dan terbukti bahwa semua dapat kita lalui semata-mata karena penyertaanNya. Pengalaman pemeliharaan Tuhan itulah yang membuat kepercayaan dan ketergantungan kepadaNya yang semakin teguh, dan kita memiliki iman yang tangguh.
"Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir." (Ibrani 6:19). Pengharapan dalam Kristus digambarkan sebagai sauh atau jangkar yang menjaga kapal agar tetap stabil ketika badai dan ombak menerpa. Badai boleh datang, tiupan angin bisa kencang, ombak dapat menghantam setiap saat, tetapi orang percaya dapat berkata, “Sauh saya tetap kuat”. Penderitaan kita bisa berlangsung begitu lama, kesulitan yang satu belum selesai lalu tantangan yang baru sudah datang, dan kita bisa bertahan karena kita memiliki sauh yang kuat yang tidak akan membiarkan kapal kehidupan kita hanyut.

Akhirnya, kita harus mengakui bahwa perubahan karakter akan segera terjadi ketika dengan kebesaran hati. Kita rela menerima proses Ilahi maupun proses natural, yaitu lewat teguran seseorang pada saat kita membuat kesalahan. "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu" (Matius 7:24-25).
Tuhan Yesus memberkati.

Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. Kakiku tetap mengikuti jejak-Nya, aku menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang. Perintah dari bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya.” Ayub 23:10-12
Ayub 23:10-12 ini berisi tentang pernyataan iman Ayub yang tetap setia kepada Allah meskipun ia sedang mengalami penderitaan yang berat. Ayub percaya bahwa Tuhan mengenal setiap langkahnya. Ia memandang penderitaan sebagai proses pemurnian yang akan membuatnya keluar bersih dan berharga seperti emas. Di tengah masa sukar, Ayub tidak meninggalkan Tuhan. Ia tetap hidup menaati perintah-Nya dan memegang teguh firman Tuhan di dalam hatinya.

Demikian juga dengan hidup kita, ada kalanya Tuhan ijinkan kita mengalami proses pembentukan yaitu Saat menghadapi masa-masa sulit, ujian, atau doa yang belum dijawab, tapi ketauhuilah bahwa Tuhan sedang memakai proses tersebut untuk memurnikan iman kita. Haruslah kita tetap bertahan sebab orang percaya hidup oleh iman yang membuat kita tidak mudah takut, tidak mudah goyah, dan tetap setia memegang teguh iman di tengah proses gemblengan atau didikan Tuhan karena semua yang terjadi pasti mendatangkan kebaikan (Roma 8:28). Terkadang kita hanya melihat sebagian kecil dari perjalanan hidup, sementara Tuhan melihat keseluruhannya. Jangan menilai kesetiaan Tuhan berdasarkan keadaan sementara; tetaplah percaya kepada Tuhan yang mengetahui akhir dari perjalanan kita. Ketika kita tidak mengerti jalan Tuhan, kita tetap dapat percaya kepada Tuhan yang memahami jalan kita.
Jika kita berbicara tentang Iman, maka kita harus kembali kepada dasar dari iman itu sendiri yaitu kebenaran Firman Tuhan. Roma 10:17 berkata bahwa “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus". Oleh sebab itu, haruslah kita belajar untuk setia membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari, bukan hanya hari minggu atau saat kita beribadah saja tapi jadikan membaca Firman Tuhan menjadi life style kita. Iman bukanlah sesuatu yang muncul secara otomatis dari dalam diri manusia, melainkan terbangun saat seseorang menerima kebenaran dan terus memperkatakan Firman itu. Sebab mendengar di sini itu penting, bukan sekadar mendengar suara secara fisik, melainkan menyimak dengan penuh perhatian, merenungkan, serta membuka hati untuk percaya kepada berita keselamatan tentang Yesus Kristus sehingga dapat menjadi fondasi utama yang menghidupkan serta menumbuhkan rohani orang percaya.

Iman yang teguh tidak dibangun hanya berdasarkan perasaan atau pengalaman, tetapi berdasarkan kebenaran firman. Ketika kita tidak mengerti proses Tuhan, tetaplah berjalan di dalam firman-Nya. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu saat kita dalam proses sedang dibentuk oleh Tuhan, karena di dalam dan bersama Tuhan semuanya baik dan Tuhan akan menjadikan segala sesuatu indah pada waktuNya bagi orang yang percaya dan tetap setia (Pengkhotbah 3:11).
Tuhan Yesus memberkati.

