Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." Matius 16:24. Menyangkal diri dan memikul salib adalah syarat utama untuk menjadi pengikut Yesus Kristus, yang berarti menempatkan kehendak Tuhan di atas keinginan sendiri serta siap menanggung beban atau penderitaan demi ketaatan kepada-Nya. Arti dari menyangkal diri adalah: melepas ego, yang artinya berhenti hidup hanya untuk memuaskan hawa nafsu dan keinginan diri sendiri; dan taat mutlak untuk menyerahkan kendali hidup sepenuhnya kepada Tuhan dan mengikuti rencana-Nya.

Jika kita hidup di dalamNya, maka kita adalah ciptaan yang baru, dan haruslah dalam seluruh aspek kehidupan kita hanya menyenangkan dan memuliakan Tuhan (2 Korintus 5:17). Ijinkan Tuhan yang berdaulat penuh dan memimpin hidup kita dalam seluruh kehendak dan rencanaNya yang sempurna, sekalipun terkadang kita harus menyalibkan keinginan daging yang sepertinya lebih menyenangkan. Percayalah, saat kita senangkan hati Tuhan, maka Tuhan tahu bagaimana menyenangkan hati kita dan memberikan kepada kita lebih dari apa yang kita pikirkan dan doakan (1 Korintus 2:9).
Sedangkan arti memikul salib adalah menerimatanggungjawab yang artinya adalah siap menghadapi tantangan, cemoohan, atau penderitaan karena mempertahankan iman; dan Setiap hari yaitu dilakukan secara konsisten setiap hari sebagai wujud kesetiaan kepada Kristus. Memikul salib juga merupakan ketaatan mutlak, bukan sekadar menghadapi masalah hidup yang umum terjadi, melainkan risiko dan penderitaan yang diterima karena seseorang memilih untuk hidup taat pada Injil dan kebenaran. Salib adalah simbol kematian bagi ego dan keduniawian, sehingga Kristus yang semakin hidup dan dinyatakan melalui kehidupan sehari-hari (Yohanes 3:30).
Ketika Tuhan Yesus mengatakan bahwa setiap orang yang mau mengikut Dia harus memikul salibnya setiap hari (Lukas 9:23), salib sama sekali belum menjadi simbol kemenangan bagi orang yang mengikut Dia. Yesus tidak meminta kita untuk benar-benar membawa salib bersama kita. Sebaliknya, memikul salib adalah pola pikir sehari-hari yang mengarah pada gaya hidup yang berfokus pada Yesus dan kepada orang lain di sekitar kita, rela untuk mengasihi dan melayani Tuhan dan sesama lebih dahulu dari pada diri sendiri.

Anggaplah penderitaan yang kita alami untuk menyangkal diri dan memikul salib itu sebagai suatu kebahagiaan sebab kalau itu diijinkan Tuhan untuk kita alami maka artinya ada suatu kebaikan dibalik semua itu. Percayalah bahwa selalu ada kemuliaan di balik salib (Roma 8:17). Dan ujian tehadap iman kita itu akan menghasilkan ketekunan untuk memperoleh buah yang matang yaitu kesempurnaan dimana bukan kita yang sempurna tetapi Dia yang sempurna tinggal dalam kita. Kita menjadi utuh karena kita memiliki Kritus. Dan kita tidak kekurangan apapun sebab kita memiliki yang paling berharga yaitu Kristus.
Tuhan Yesus memberkati,

Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.” 1 Timotius 6:18-19
Panutan utama dalam hal memberi adalah Yesus Kristus, karena Dia sudah memberikan yang terbaik bagi kita, yaitu teladan hidupNya. Ia bahkan telah menyerahkan nyawaNya sebagai tebusan bagi dosa umat manusia, menggantikan hukuman kekal yang seharusnya kita tanggung.
Sebagai murid Kristus seyogianya kita suka memberi, baik waktu kita, mungkin menemani mereka yang membutuhkan perhatian kita; telinga kita, mendengarkan curhat dari sesama. Setiap orang membutuhkan tempat untuk menumpahkan keluhan-keluhan, karena akan mengurangi beban yang bersangkutan. Pemberian juga bisa berupa uang bagi mereka membutuhkan uluran tangan. Entah mereka yang mengalami bencana alam, dampak peperangan, atau membutuhkan suntikan dana guna memperbaiki perekonomian mereka dengan usaha baru, membantu biaya rumah sakit, pengobatan, misi, dan lain-lain.

Matius 6:19-21 mengatakan “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”. Ayat ini memberikan peringatan keras bahwa hati kita tidak boleh dikuasai oleh harta. Dengan membiarkan hati kita dikuasai oleh mamon, otomatis kita menjadi apatis terhadap mereka yang membutuhkan pertolongan. Hal ini disebabkan pandangan yang salah dimana fokusnya hanya untuk mendapatkan uang lebih banyak dan lebih banyak lagi. Tidak pernah merasa cukup, selalu merasa kurang sehingga enggan memberi. Padahal sudah tahu bahwa dunia ini adalah tempat sementara. Bila saatnya berpulang ke rumah Bapa, tidak se-peserpun akan dibawa. Mengapa berinvestasi sedemikian rupa? Sebaiknya investasi untuk hal-hal yang bersifat kekal.
Janganlah lupa bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah titipan Tuhan. Dia percayakan pada kita agar dikelola bagi kemuliaanNya. Artinya kita menjadi perpanjangan tangan Tuhan, bukan ditimbun untuk diri sendiri. Tuhan tidak pernah berhutang. Bila kita bersedia memberikan bantuan, maka Tuhan akan memberkati kita. Berkat-Nya selalu baru. Lukas 6:38 mengatakan "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." Semakin banyak kita memberi, semakin banyak pula berkat yang Tuhan curahkan. Kita dapat sisihkan kembali untuk pelebaran kerajaan sorga. Janji Bapa pasti digenapi karena Dia tidak bisa mengingkari janjiNya.
Dibutuhkan tidak sedikit dana untuk menjangkau banyak orang yang belum mengenal Kristus. Puji syukur bagi Tuhan, Gereja dimana Tuhan tempatkan saya dan suami melayani telah memiliki proyek misi di Kalimantan Barat, minimal satu dekade tepatnya di Balai berkuak dan sekitarnya. Hamba-hamba Tuhan disana membutuhkan biaya hidup termasuk ongkos transportasi yang tidak murah. Diperlukan gembala-gembala yang bersedia untuk membantu proyek misi yang ada. Kami berkomitmen untuk memberikan sumbangsih guna menuntaskan Amanat Agung. Selain menggembalakan jemaat setempat, mendukung proyek-proyek misi juga menjadi bagian pelebaran kerajaan sorga. Setiap Minggu, selalu ada dana terkumpul untuk misi. Hal ini sudah berjalan bertahun-tahun tanpa jemaat harus dihimbau lagi. Memberi untuk misi sudah menjadi gaya hidup Gereja.

Bila Tuhan mempercayakan keuangan berkelimpahan, itu bukan semata-mata untuk kenyamanan hidup. Sebagai manusia rohani, Tuhan tidak menghendaki hidup kita seperti manusia dunia. Tidak perlu menunjukkan kemewahan untuk membuktikan diri kita sangat diberkati. Kalau Tuhan mengijinkan lebih dari cukup adalah untuk menjangkau mereka yang belum terjangkau. Dana yang Tuhan percayakan adalah sebagai peningkatan standar pemberian Saudara dan saya. Biarlah memberi kepada mereka yang membutuhkan menjadi gaya hidup kita.
Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Kisah Para Rasul 20:35
Segala puji, hormat, kemuliaan hanya bagi Tuhan!

Sering kita mendengar perkataan: "doa adalah nafas hidup orang percaya”. Kalimat ini tidak dapat kita temui dalam alkitab. Namun, perkataan tersebut merupakan ungkapan yang menggambarkan identitas orang percaya, khususnya kita pengikut Kristus. Kalau doa adalah nafas, berarti doa bukanlah sebuah keharusan, melainkan kehausan atau kebutuhan kita setiap hari, setiap saat, bahkan setiap detik. Tanpa doa, manusia roh kita menjadi kering, jauh dari Tuhan dan dapat mengakibatkan mati rohani.

Doa adalah komunikasi dua arah antara kita dengan Tuhan. Disaat kita berdoa, kita juga menerima respondNya melalui firman Tuhan yang kita baca setiap hari, siang dan malam. Setiap kita membaca dan merenungkan firman Tuhan, kita mempertajam telinga iman kita. Sebab, “… iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Roma 10:17
Seperti Maria duduk dekat kaki Tuhan, dia terus mendengarkan perkataan-Nya. Tuhan Yesus berkata, “Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Lukas 10:42). Sebaliknya, Marta sibuk sekali melayani sehingga timbul hati yang cemas. Yesus berkata kepadanya, ”Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,” (Lukas 10:41)
Perkataan Yesus kepada Marta menggambarkan orang percaya yang hanya memikirkan perkara di bumi dan bukan di atas. (Kolose 3:2). Seorang demikian mungkin bisa berdoa, namun doanya hanya sekedar permintaan sesuai kehendak hatinya, bahkan bisa menyuruh Tuhan untuk melakukan apa yang dia inginkan. Kata Marta kepada Yesus, ”Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” (Lukas 10:40).
Seseorang seperti Marta, hidupnya tidak tenang, kuatir dengan banyak perkara, timbul iri hati, kecewa, bahkan amarah. Sehingga mengaggap Tuhan seperti pribadi yang dapat disuruh atau alat instant yang dapat memberi jawaban dengan cepat. 1 Petrus 4:7b mengingatkan, “. . . kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa." Karena berdoa dengan tenang berarti kita mengesampingkan semua perkara yang mengacaukan pikiran, dan mengijinkan Roh Kudus bekerja. “. . . Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8:26. Dengan begitu kita dapat mendengar perkataan Tuhan, bukan perkataan diri kita sendiri.

Kenapa Yesus katakan bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik? Karena dia suka mendengar perkataan Tuhan. “ . . . kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” (Mazmur 1:2) Menyukai firman Tuhan sudah pasti suka berkomunikasi dengan Tuhan tanpa menganggap Ia akan memberi jawaban atau tidak. Paulus berkata kepada jemaat di Filipi, “… setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita.” (Filipi 1:4)
Mari, jangan sekalipun doa menjadi beban, melainkan kesukaan yang kita lakukan setiap saat dengan hati penuh ucapan syukur. “Tetaplah berdoa.”- 1 Tesalonika 5:17.
Tuhan Yesus memberkati,

“Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." Yakobus 1:23-25 TB
Mirror, Mirror on the wall, Who is the fairest one of all?
Apakah Anda ingat filmnya? Yaitu Snow White. Anda ingat satu kali bahwa ratu jahat diberitahu oleh cermin ajaibnya bahwa dia bukan lagi wanita tercantik di kerajaan, bahwa dia sebenarnya telah dikalahkan dalam hal penampilan oleh tidak lain dan tidak bukan putri tirinya, Putri Salju.

Adegan yang saya maksud adalah ketika dia berada di penjara bawah tanahnya, menyiapkan penyamaran ajaib yang akan memungkinkannya untuk menipu Putri Salju agar memakan apel beracun. Ramuan yang dia buat sangat efektif, mengubah ratu yang dulunya anggun menjadi nenek sihir yang tertawa terbahak-bahak.
Sebelum berangkat menjalankan misi pembunuhannya, dia mengangkat apel itu ke langit dan berseru dengan penuh kemenangan, "Sekarang aku akan menjadi yang tercantik di negeri ini!"
Mungkin jika dia satu-satunya yang tersisa…
Jenis ketidaksesuaian seperti itulah yang dibicarakan Yakobus dalam dua ayat ini. Ingatlah bahwa dalam ayat sebelumnya ia membahas tentang seseorang yang mendengar Firman, tetapi tidak mempraktikkannya. Orang itu, kata Yakobus, sedang menipu dirinya sendiri.
Sekarang ia memberi kita sebuah ilustrasi.
Bayangkan seseorang…mungkin seseorang yang Anda kenal baik…Anda, misalnya…bangun dan berjalan tertatih-tatih ke cermin. Di sana Anda dihadapkan dengan kebenaran yang buruk: rambut Anda berantakan, Anda perlu bercukur, sesuatu harus dilakukan tentang bulu hidung itu…singkatnya, ada pekerjaan yang harus dilakukan sebelum Anda berangkat kerja. (Untuk para wanita yang membaca ini, ganti bercukur dengan riasan…)
Sekarang bayangkan melihat kekacauan itu, mengangkat bahu, berkata “Tidak apa-apa”, dan berangkat kerja. Cermin telah mengatakan kebenaran kepada Anda, dan Anda tidak melakukan apa pun tentangnya. Anda sedang berhalusinasi…mungkin bukan berhalusinasi seperti “penyihir jahat”, tetapi hampir.
Jika masih ada keraguan, dalam analogi Yakobus, Firman Tuhan adalah cermin. Firman Tuhan memberi tahu kita kebenaran (yang seringkali buruk) tentang diri kita sendiri, dan memberi kita cetak biru untuk transformasi.

Jadi, ketika Anda duduk di gereja pada hari Minggu, ketika Anda membuka Alkitab untuk renungan harian, ketika Anda mendengarkan khotbah-khotbah di YouTube, sangat penting bagi Anda untuk bertanya pada diri sendiri, "Apa sebenarnya yang Firman Tuhan ingin saya lakukan di sini?" Pergi dan lakukanlah. Iman tanpa perbuatan adalah Mati.
Biarlah Firman mentransformasi hidup kita menjadi serupa dengan gambar Kristus
Tuhan Yesus memberkati.

