Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN." Maleakhi 3:3
Setiap manusia memiliki karakter yang berbeda-beda. Karakter seseorang terbentuk dari gabungan faktor internal dan faktor eksternal. Riset menunjukkan, bahwa ada dua faktor utama yang memengaruhi pembentukan karakter.
Pertama adalah genetik, yaitu sifat bawaan lahir dari orang tua yang memengaruhi cara kerja otak dan emosi. Kedua adalah lingkungan, yang terdiri dari empat aspek: Keluarga, yaitu pola asuh orang tua dan didikan awal di rumah; Pergaulan, yaitu teman, sekolah, dan tetangga yang memberi pengaruh pergaulan sehari-hari; Pengalaman hidup, yaitu peristiwa baik atau buruk yang pernah dialami turut membentuk cara pandang dan kebiasaan; Pendidikan dan budaya, yaitu nilai moral, norma, serta aturan yang diajarkan lewat sekolah atau masyarakat.
Ketika seseorang lahir baru, Tuhan mulai membentuk karakter kita agar karakter yang buruk semakin terkikis dan terus diperbaharui agar semakin serupa dengan karakter Kristus. Pembaharuan karakter bukan terjadi ketika keadaan sedang baik-baik saja. Sebaliknya karakter diperbaharui melalui tekanan, tantangan, penderitaan, serta kesulitan yang kita hadapi. Bila kita mengijinkan Tuhan memproses hidup kita, maka karakter-karakter buruk yang dimiliki manusia, yang berpusat pada kepentingan diri sendiri, meninggikan diri sendiri, dan segala yang buruk akan mengalami perubahan. Karakter-karakter yang negatif diubah menjadi karakter-karakter yang positif, yaitu kasih, sabar, setia, rendah hati, murah hati, pemaaf, dan segala yang baik. Hasil pembentukan kepribadian ini akhirnya muncul dalam wujud seperti menolong sesama, menyatakan kebaikan, melakukan segala sesuatu dengan tulus, tidak membenci, tidak mendendam, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tidak menipu, dsb.

Seperti buah anggur yang ditekan untuk menghasilkan anggur, seperti buah zaitun yang ditekan untuk menghasilkan minyak zaitun, maka satu-satunya jalan untuk menghasilkan karakter Kristus adalah melalui tekanan-tekanan yang menimpa kita. Tekanan bisa berupa fitnahan, disalahpahami, ditipu, dihianati, kehilangan pekerjaan, penyakit, kehilangan teman atau persahabatan, dan banyak pergumulan lainnya. Tanpa disadari jika kita bersedia melewati semua ini, kemampuan kita dalam mengasihi dan menunjukkan belas kasihan justru semakin dalam, dan kemampuan berempati mulai dibangun. Bercermin dari bangsa Israel yang karena terus-menerus berontak kepada Tuhan dan bersungut-sungut saat melewati padang belantara, maka Tuhan membiarkan bangsa Israel berputar-putar selama 40 tahun. Setelah dirasa cukup, mereka baru diijinkan masuk ke tanah perjanjian, Kanaan. Pelajaran yang bisa dipetik disini, bila kita cenderung berontak dan tidak bersedia diproses, bersungut-sungut dalam tekanan, maka hal ini akan menjadi kendala, dan pertumbuhan karakter kita mengalami stagnasi.
Cara Tuhan mengijinkan kita masuk dalam berbagai masalah yang menyakitkan, bukan berarti Tuhan tidak sayang pada kita. Itu adalah kesempatan yang berharga dimana Tuhan mendidik kita agar karakter kita bertumbuh. Didikan Tuhan merupakan bukti bahwa Dia mengasihi kita, seperti orang tua yang kadangkala harus mempraktekkan “tough love” supaya anaknya tumbuh menjadi anak tangguh, dapat diandalkan, dan dapat menjaga nama baik orang tua.
Roma 5:3-4 mengatakan, "Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Maksud dari ketekunan disini adalah tetap bertahan, tetap percaya, tetap teguh dan berserah pada Tuhan, bukan menjadi pahit, kecewa, atau bahkan menyalahkan dan meninggalkan Tuhan. Allah ingin setiap kita bertahan dalam kesulitan, karena inilah yang menghasilkan ketekunan, dan ketekunan akan menghasilkan tahan uji (karakter yang teruji). Ketika biji logam mulia dipanaskan dalam api, kotoran dan unsur-unsur lain muncul ke permukaan, dan dapat dibuang. Akhirnya akan dihasilkan emas yang murni. Panasnya api penderitaan dapat memperlihatkan karakter-karakter buruk yang masih melekat pada kita, dan itulah yang sedang Tuhan bersihkan sepanjang hidup kita agar karakter Kristus semakin tercermin melalui kita. Seorang pemurni emas bisa mengetahui kalau emas yang diproses sudah murni, ketika ia dapat melihat bayangan wajahnya sendiri di dalam emas tersebut. Demikian juga Tuhan mengakui kemurnian kita ketika diriNya tercermin dari kehidupan kita.
Pada akhirnya tahan uji menghasilkan pengharapan, yaitu keyakinan yang kokoh berdasarkan Firman dan karakter Allah. Seseorang dapat tetap memiliki pengharapan meskipun melewati perjalanan hidup yang terjal sekalipun, karena dengan apa yang ia alami ia semakin memahami bahwa Allah adalah Allah yang setia. Dia tidak pernah meninggalkan kita, bagi Dia tidak ada yang mustahil, tidak pernah ingkar janji, tidak pernah terlambat, selalu menegakkan keadilan, dan terbukti bahwa semua dapat kita lalui semata-mata karena penyertaanNya. Pengalaman pemeliharaan Tuhan itulah yang membuat kepercayaan dan ketergantungan kepadaNya yang semakin teguh, dan kita memiliki iman yang tangguh.
"Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir." (Ibrani 6:19). Pengharapan dalam Kristus digambarkan sebagai sauh atau jangkar yang menjaga kapal agar tetap stabil ketika badai dan ombak menerpa. Badai boleh datang, tiupan angin bisa kencang, ombak dapat menghantam setiap saat, tetapi orang percaya dapat berkata, “Sauh saya tetap kuat”. Penderitaan kita bisa berlangsung begitu lama, kesulitan yang satu belum selesai lalu tantangan yang baru sudah datang, dan kita bisa bertahan karena kita memiliki sauh yang kuat yang tidak akan membiarkan kapal kehidupan kita hanyut.

Akhirnya, kita harus mengakui bahwa perubahan karakter akan segera terjadi ketika dengan kebesaran hati. Kita rela menerima proses Ilahi maupun proses natural, yaitu lewat teguran seseorang pada saat kita membuat kesalahan. "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu" (Matius 7:24-25).
Tuhan Yesus memberkati.

