26-OCTOBER 2026 | VOL. 112

Menabur Benih Injil dan Kebajikan

Shalom! Kita percaya kedatangan Yesus yang kedua kalinya sudah semakin dekat, sebab itu mari kita semakin giat di dalam pekerjaan Tuhan dengan menabur benih injil dan kebajikan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam keluarga dan dalam gereja, menjadi pelaku-pelaku Firman dan juga menjadi dampak bagi sekeliling kita.

Menabur benih Injil dalam kehidupan kita berarti membagikan Firman Tuhan. Firman yang hidup di dalam keseharian kita mencerminkan kasih Kristus melalui perkataan serta perbuatan sehari-hari kepada siapa saja tanpa pilih-pilih atau memandang bulu. Menabur benih Injil tidak selalu mengenai pengajaran Alkitab, tetapi juga dapat dilakukan melalui sikap dan tindakan kita sehari-hari yang sesuai dengan Firman Tuhan.

Saya sedikit sedih melihat ada beberapa gereja yang tertutup untuk menabur benih dan kebajikan kepada lingkungan di luar untuk penjangkauan jiwa. Tugas kita bukan hanya di gereja menabur benih dan kebaikan hanya untuk di dalam gereja saja. Ke dalam gereja itu penting, tetapi jangan lupa juga untuk menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang di luar sana. Lukas 15:1-7 menceritakan bagaimana Tuhan Yesus duduk bersama pemungut cukai dan orang-orang berdosa untuk mencari domba-domba yang tersesat atau terhilang.

Secara pribadi saya suka berbicara tentang Firman Tuhan secara santai seperti pembicaraan sehari-hari, berbeda dengan cara kita berkhotbah di panggung. Contoh, ada seorang wanita yang saya layani dan konseling mengenai pernikahannya. Dia tidak mengenal Tuhan. Yesus meninggalkan domba yang 99 ekor untuk mencari satu domba yang hilang. Inilah penginjilan di luar gereja untuk memperkenalkan Yesus. Tidak akan ada tuaian tanpa taburan, hari-hari ini kita harus memgingatkan satu sama lain memgenai Amanat Agung. Seringkali karena banyaknya kebutuhan sehingga yang terpikirkan hanyalah diri kita dan kebutuhan kita.

Mazmur 126:5-6 “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.”

Tugas kita sebagai penabur adalah menabur benih kebajikan dan belas kasihan kepada orang-orang di sekitar kita yang memerlukan, tanpa melihat bahasa, suku bangsa, latar belakang, maupun cara pandang yang berbeda-beda.

Matius 5:16 "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Kita perlu menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang bersama-sama, dengan bergandengan tangan dan saling menopang siapapun yang membutuhkan kasih dan pengajaran yang memerdekakan orang lain.

Lukas 5:32" Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat."

Tuhan Yesus memberkati kita semua!


19-OCTOBER 2026 | VOL. 111

Mendukung Misi Dengan Doa dan Dana

"Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: ”Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." Matius 9:37-38

Yesus memberikan Amanat Agung kepada kita untuk pergi dan menjadikan segala bangsa murid-Nya. Pelayanan pekerjaan misi adalah penggenapan Amanat Agung dan merupakan panggilan Tuhan bagi kita untuk bekerja menuai jiwa-jiwa.Pekerjaan misi tidak dibatasi oleh budaya, bahasa, maupun suku bangsa. Banyak orang yang terpanggil secara khusus untuk pergi ke ladang misi dunia, namun banyak juga yang terpanggil untuk melayani di komunitas tempat mereka hidup dan bekerja.

Mungkin kita tidak terpanggil untuk pergi ke ladang misi dunia. Selain melayani jiwa-jiwa dalam komunitas kita, apa lagi yang dapat kita lakukan untuk mendukung pelayanan pekerjaan misi di seluruh dunia?

1.) Berdoa Bagi Pekerjaan Misi

Doa adalah penggerak pekerjaan misi. Ibarat mesin tanpa bahan bakar, demikianlah pekerjaan misi tanpa doa. Selama Yesus ada di muka bumi, misi dan doa adalah dua hal yang tidak terpisahkan dalam pelayanan-Nya.

Sering kita melihat bagaimana Ia bangun pagi-pagi benar, atau menarik diri-Nya dari kerumunan, untuk berdoa. Tanpa doa, pelayanan pekerjaan misi tidaklah mungkin menjadi efektif. Doa menyelaraskan kita dengan kehendak Tuhan.

Center for the Study of Global Christianity (CSGC) di Gordon-Conwell Theological Seminary mencatat bahwa di tahun 2025, jumlah misionaris sepenuh waktu di seluruh dunia ada sekitar 450.000 orang. Angka ini belum termasuk misionaris tidak tercatat dalam data. Bisakah kita bayangkan, jika tidak ada yang berdoa bagi mereka?

Mungkin kita tidak terpanggil sebagai misionaris di berbagai belahan dunia, tetapi doa-doa kita dapat menjangkau begitu jauh sampai ke ujung dunia.

2.) Memberi Bagi Pekerjaan Misi

“Godly giving actually does more good for the giver than for the one who receives.” - David Guzik

Pekerjaan misi bukan hanya membutuhkan dukungan doa, tetapi juga dukungan dana. Ibarat kendaraan tanpa roda yang baik, demikianlah pekerjaan misi tanpa dana. Apakah kendaraan tersebut masih bisa berjalan? Masih, namun bisa tersendat.

Jemaat-jemaat di Makedonia merupakan teladan bagi kita dalam memberi bagi pekerjaan Allah (2 Korintus 8:1-5). Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. 

Demikian juga dengan jemaat di Filipi, yang merupakan salah satu jemaat di wilayah Makedonia. Jemaat di Filipi telah begitu setia memberi untuk pekerjaan misi yang dilakukan oleh Paulus. Tidak semua dari mereka adalah rasul, nabi, penginjil, gembala, atau pengajar, tetapi mereka telah mengambil bagian dalam pekerjaan misi yang besar untuk menuai jiwa-jiwa, melalui taburan mereka.

Apa yang Paulus katakan tentang mereka?

“Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Filipi 4:18-19

Biarlah doa-doa dan taburan kita berdampak bagi pelayanan pekerjaan misi di seluruh dunia, sampai Tuhan Yesus datang kembali menjemput kita, dan kita kedapatan setia melakukan kehendak-Nya. Maranatha!


12-OCTOBER 2026 | VOL. 110

Selamatkan Orang Dari Api Neraka

Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.” Yudas 1:22-23

Sebagai wanita, kita yang pernah melahirkan anak mengalami perjuangan dalam proses yang sangat melelahkan dan juga membahayakan. Ada ibu yang berkata seperti mau mati rasanya, seperti dilindas bull dozer. Tetapi kelahiran anaknya melenyapkan semua rasa sakit dan ganti dengan sukacita.

Apalagi dari hati Tuhan yang menciptakan, Dia tidak ingin manusia binasa. Bapa di surga berjuang beribu-ribu tahun dan mengorbankan Tuhan Yesus, AnakNya yang tunggal supaya yang percaya dan lahir baru selamat.

Dunia ini penuh ancaman yang mematikan. Penyakit kronik, jiwa yang sakit, isolasi, tekanan, prilaku jahat, tersesat dan terhilang yang bisa membuat hati jadi pahit / marah / kecewa dan ragu untuk ikut Tuhan Yesus bahkan sampai merenggut iman. 

Dampak kehidupan yang ekstrem datang seperti api yang menyambar cepat. Yudas menyadari suatu urgensi dan mengajak kita membangun sikap seperti ‘merampas’ dengan belas kasihan.

Kasih yang sejati bukan hanya menangis ketika seseorang binasa; kasih yang sejati berani bertindak sebelum semuanya terlambat.

Pertanyaannya, kalau kita tidak bisa melihat neraka dengan mata jasmani, bagaimana kita bisa memiliki kepedulian terhadap jiwa-jiwa yang terancam binasa?

  1. Kita mungkin tidak melihat konsekuensi akhir dari dosa seseorang, tetapi kita bisa melihat perubahan hidupnya ketika ia mulai menjauh dari Tuhan.

  2. Kita mungkin tidak melihat bahaya rohani yang sedang dihadapi anak2x, tetapi kita bisa melihat ketika anak itu mulai kehilangan kerinduan untuk berdoa, beribadah, dan hidup dalam kebenaran.

  3. Kita mungkin tidak mengetahui keadaan akhir seseorang, tetapi kita bisa terus mengasihinya, mendoakannya, dan mengarahkan dia kepada Kristus.

Pendekatan dan checking one another untuk memeriksa kondisi hati adalah hal yang kita perlu lakukan berulang-ulang seperti perintah Tuhan di Ulangan 6:6-7.

Pendampingan seperti nenek Lois dan ibu Eunike dalam doa dan dukungan diperlukan apalagi banyak anak yang ditelantarkan, tanpa didikan iman dan hidup seenaknya saja.

Jangan hanya bertanya, “Apakah anak saya berhasil dalam pendidikan dan pekerjaannya?” Tanyakan juga, “Apakah anak saya sedang bertumbuh mengenal Tuhan?” Ada pribadi yang terlihat kuat di luar, tetapi menangis ketika sendirian. Ada yang tetap tersenyum di gereja, tetapi sedang kehilangan harapan. Ada yang masih datang beribadah, tetapi diam-diam mulai meragukan kasih Tuhan. Jangan cepat berkata, “Dia sudah dewasa. Itu urusannya sendiri.”

Mungkin Tuhan sedang menempatkan kita di dekatnya supaya kita menjadi sahabat yang mendengarkan, menopang, dan menolongnya kembali kepada Tuhan.

"Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan." Galatia 6:1

Galatia 6:1 mengajarkan bahwa orang yang jatuh hendaknya dipimpin kembali dalam roh lemah lembut. Jangan hanya menjadi pribadi yang mengetahui masalah orang lain. Jadilah pribadi yang dipakai Tuhan untuk membantu mereka menemukan jalan kembali.

Merampas waktu yang sia-sia digunakan untuk hal yang tidak membawa kita kepada kekekalan. Isilah dengan doa, belajar firman Tuhan bersama yang lain dengan membangun teladan dalam kasih, pengampunan, integritas, kerendahan hati, dan terus berharap.

Merampaslah dengan jangan takut ditolak untuk mengabarkan Injil. Kita tidak pernah tahu berapa banyak kehidupan yang dapat disentuh Tuhan melalui kita yang bersedia berdoa, mendengar, mengampuni, dan bertindak. 

Tuhan Yesus tidak merubah perkataannya, "dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Matius 28:20

Haleluya!


5-OCTOBER 2026 | VOL. 109

Berpikir Global, Bertindak Lokal

"Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Matius 22:37–39

Sebagai wanita Tuhan, kita sering memiliki mimpi dan kerinduan yang besar. Kita ingin dipakai Tuhan lebih luas, keluarga kita berhasil, pelayanan berkembang, bahkan menjadi berkat bagi banyak orang. Tidak ada yang salah dengan berpikir global. Tuhan sendiri mempunyai hati bagi segala bangsa, suku, kaum, dan bahasa. 

Tetapi terkadang mata kita terlalu fokus kepada sesuatu yang masih jauh di depan sampai kita melalaikan apa yang sudah Tuhan percayakan hari ini. 

Kita ingin pelayanan yang lebih besar, tetapi bagaimana hubungan kita dengan orang di rumah? Kita mengejar keberhasilan dalam pekerjaan, tetapi apakah kita masih setia dan menjadi berkat di tempat kita bekerja sekarang? Jangan sampai kita sibuk mengejar sesuatu yang besar sehingga kehilangan kesetiaan dalam perkara yang sudah ada di tangan kita.

Yesus sebenarnya membuat panggilan hidup kita sangat sederhana: Love God. Love your neighbor. Love your household. Jangan overcomplicate things. Mulailah dari rumah. Kasihi suami, anak-anak, orang tua, dan keluarga yang Tuhan tempatkan bersama kita. Kemudian lihat sedikit lebih luas: tetangga, teman kerja, teman gereja, dan orang-orang yang kita jumpai setiap hari. Kita mungkin berpikir, “Bagaimana saya bisa menjadi berkat bagi bangsa-bangsa?” Tetapi Tuhan mungkin sedang berkata, “Bagaimana dengan orang yang Aku tempatkan tepat di depanmu?” Berpikir global boleh besar, tetapi bertindak lokal dimulai dari kesetiaan yang sederhana.

Dan dalam semuanya itu, jangan pernah kehilangan hati Tuhan. Bahkan dalam pelayanan, kita perlu terus memeriksa hati: Mengapa saya melakukan ini? Apakah karena saya mengasihi Tuhan dan manusia, atau karena ambisi, pengakuan, posisi, dan keinginan pribadi? 

Hati Tuhan memang bagi dunia, segala bangsa, suku, ras, dan bahasa, tetapi kasih kepada dunia tidak boleh hanya menjadi sebuah slogan. Kasih itu harus terlihat dalam cara kita memperlakukan manusia yang Tuhan tempatkan di sekitar kita.

Jadi minggu ini, mari kita melihat lebih dekat. Asisten rumah tangga kita, supir, pelayan restoran, kasir supermarket, orang yang membersihkan meja kita, rekan kerja, bahkan orang yang mungkin sering kita abaikan, apakah mereka dapat melihat terang Kristus melalui kita? Jangan menunggu kesempatan yang besar untuk melakukan sesuatu yang besar bagi Tuhan. Bisa jadi ladang pelayanan yang Tuhan berikan kepada kita sudah ada di rumah, di tempat kerja, di restoran, atau di supermarket. Berpikirlah global, tetapi bertindaklah lokal. Kasihi Tuhan, kasihi sesama, dan mulailah dari orang yang ada di depan kita hari ini.

Tuhan Yesus memberkati.