Dalam surat Paulus kepada gereja di Roma, salah satu pasal, yaitu Roma 8, menjelaskan konsep kedagingan dengan begitu jelas untuk membedakannya dengan kehidupan yang dipimpin Roh Kudus.
DAGINGKU ADALAH PENJARAKU
Daging di sini bukanlah tubuh fisik kita sendiri, tapi sifat alami manusia yang sudah dipengaruhi oleh dosa, kecenderungan hati/pikiran kita untuk tidak taat kepada Tuhan, egois dan sombong.
DAGINGKU PENUH DENGAN KEINGINGAN YANG TIDAK ADA ATURAN
Roma 8:3 menyatakan apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging...telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan "daging yang dikuasai dosa", Ia telah "menjatuhkan hukuman atas dosa di daging". (condemned sin in the flesh). Artinya yang lemah bukan hukumnya, tapi kedagingan kita (kekuatan dalam diri kita) yang berontak untuk taat kepada hukum dan memilih untuk mengikuti keinginan dan hawa nafsu sendiri. Maka HANYA Tuhan Yesus yang DIUTUS oleh Bapa dan bisa menyelesaikan dosa. Tidak ada Tuhan/pribadi yang lain. HANYA Tuhan Yesus yang menjadi sama seperti kita tinggal dalam daging yang sudah dikuasai dosa. Bagaimana kuasa dosa dikalahkan? Dengan menjatuhkan hukuman atas dosa harus di daging DI kayu saliblah, dosa diadili, kuasa dosa dihancurkan/dikutuk saat Tuhan Yesus mengorbankan tubuhnya dan darahNya.

DAGINGKU SUDAH MATI BERSAMA TUHAN YESUS DISALIB
Karena itu Yesus berkata di Matius 16:24, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku."
Barangsiapa adalah milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginan-keinginannya. (Galatia 5:24)
DAGING SAMA SEKALI TIDAK BERGUNA
Tuhan Yesus menegaskan di Yohanes 6:63, "Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup."
Roma 8:8 berkata: “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah”.
Rasul Paulus mengajak kita hidup menuruti Roh dengan memikirkan hal-hal yang dari Roh. Rohlah yang memimpin hidup kita kepada kebenaran, firman Tuhan menjadi makanan pokok bagi roh kita. Pikiran kita dibaharui dari kebenaran kepada kebenaran.
Perjalanan iman kita dipenuhi dengan pimpinan Roh Kudus yang dengan lemah lembut mengarahkan dan mengajar hati kita, Respon aktif kita adalah “Kerelaan dan Pengabdian” Mari kita mengelilingi diri dengan renungan firman, komunitas rohani, latihan dari perkara kecil mengandalkan firman Tuhan.

Sedikit membagi pengalaman hidup, saya diberi kesempatan hidup 7 tahun di Melbourne, Australia untuk study dan setelah itu pindah ke United States untuk melayani bersama suami. Beberapa orang bertanya mana yang lebih enak tinggal di Aussie atau US?
Kata “enak” buat daging pasti beda dengan Roh…yang penting dimana Tuhan mau saya berada disitulah saya akan lakukan terbaik. Justru saya belajar untuk dengar tuntunan Tuhan ketika pilihan didepan saya. Ketika sudah tidak ada pilihan, bukanlah menjadi keterbatasan tetapi justru Tuhan bisa melakukan yang mengherankan.
AKUILAH DIa didalam segala jalanmu, maka Ia akan meluruskan jalanmu " (Amsal 3:6)

“Now in a large house there are not only gold and silver vessels, but also vessels of wood and of earthenware, and some to honor and some to dishonor. Therefore, if a man cleanses himself from these things, he will be a vessel for honor, sanctified, useful to the Master, prepared for every good work.” - 2 Timothy 2:20–21
Now in a large house there are not only gold and silver vessels, but also vessels of wood and of earthenware, and some to honor and some to dishonor. Therefore, if anyone cleanses himself from these things, he will be a vessel for honor, sanctified, useful to the Master, prepared for every good work.
Vessels of Honor vs. Dishonor: The focus is not on the material (gold or clay) but on the cleanliness of the vessel. A vessel of honor is sanctified (set apart) and useful to the Master.

What is holiness? Holiness means being set apart for God—living in a way that reflects His character (pure, righteous, devoted).
In Leviticus 19:2: “Be holy because I, the Lord your God, am holy.” It’s not just about rules—it’s about a heart aligned with God. God doesn’t require perfection—but He does desire willingness and a clean heart.
In 2 Timothy 2:21: “Those who cleanse themselves… will be instruments for special purposes, made holy, useful to the Master.” God often uses people not because they are perfect, but because they are set apart, willing, and faithful.
I Corinthians 3:11-13, 15 NKJV “For no other foundation can anyone lay than that which is laid, which is Jesus Christ. Now if anyone builds on this foundation with gold, silver, precious stones, wood, hay, straw, each one’s work will become clear; for the Day will declare it, because it will be revealed by fire; and the fire will test each one’s work, of what sort it is. If anyone’s work is burned, he will suffer loss; but he himself will be saved, yet so as through fire.”
The "Day" (judgment day/evaluation) will bring each person's work to light, using fire to test the quality of the work. If the work survives, a reward is given. If the work burns up, the builder suffers loss but is still saved, "yet so as through fire".

Finally, we are to follow the Lord with those who “call on the Lord from a pure heart.” Note that “pure” here means “undivided.” Our desire must be to be above all faithful to the Lord.
Luke 16:13 NKJV “No servant can serve two masters; for either he will hate the one and love the other, or else he will be loyal to the one and despise the other. You cannot serve God and mammon.”
Practical Steps to Grow in Holiness and Ministry
Spend time in prayer and Scripture
Be quick to repent and grow
Stay humble and teachable
Serve others faithfully—even in small ways
God bless us all.

Markus 13 :7-10 berkata "Namun kalau kamu mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang, janganlah kamu gelisah. Semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada gempa bumi di berbagai tempat dan akan ada kelaparan. Demikianlah hal itu baru merupakan permulaan penderitaan seperti sakit bersalin. Tetapi kamu ini, waspadalah! Kamu akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul di rumah ibadat dan kamu akan dihadapkan menjadi saksi di hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja oleh karena Aku. Tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa."
Dengan apa yang terjadi saat ini, perang Amerika dan Iran yang melibatkan juga bangsa Israel, menjadi wake up call bagi kita sebagai gereja Tuhan untuk hidup berjaga-jaga dan waspada selalu akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya ke dunia. Sebab tanda-tanda kedatanganNya yang dicatat dalam Alkitab satu per satu sudah mulai digenapi. Tidak ada seorangpun yang tahu kapan waktu kedatangan Tuhan Yesus. Namun yang terpenting bagi kita adalah selalu siap sedia sehingga kita kedapatan berkenan saat Tuhan Yesus datang Kembali.

Penyucian dan perubahan karakter adalah bagian dari proses mempersiapkan diri untuk kedatangan Tuhan Yesus dan merupakan proses seumur hidup di mana Roh Kudus mengubah orang percaya menjadi serupa dengan Kristus, yang ditandai dengan matinya perbuatan daging dan tumbuhnya buah Roh. Ini bukan sekadar perbuatan baik, melainkan transformasi hati dan pikiran untuk dapat menikmati damai sejahtera Allah dengan hidup kudus sekalipun di tengah pergumulan hidup, tantangan dan keadaan yang sulit. Penyucian dan perubahan karakter akan menghasilkan kebaikan bagi kita, jika kita memiliki respon hati yang benar, mau diubahkan, rela dibentuk seperti yang Tuhan mau. Perubahan karakter bukan sekadar perbaikan perilaku luar, melainkan tanda lahir baru. Perubahan ini terjadi dalam tindakan sehari-hari, saat kita merespons situasi sulit dengan kasih dan kesabaran, bukan dengan membalas kejahatan, sehingga kita menjadi orang pembawa damai dan saksi Kristus di tengah dunia ini.
Standar karakter orang percaya adalah Yesus Kristus. KarakterNya penuh kasih, sabar, rendah hati, dan taat pada Bapa. Semakin karakter kita diubahkan, semakin kita mengenakan karakter Kristus dalam pekerjaan, keluarga, dan pelayanan. Dan meskipun kita telah dibenarkan, kita masih dalam proses penyucian (progresif) untuk mematikan sifat-sifat dosa (Roma 8:13). Roh Kudus membantu kita memperbarui akal budi setiap hari agar tidak serupa dengan dunia. Dan sebagai hasilnya adalah perubahan karakter yang sejati membuahkan karakter Kristus, yang mencakup kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Jadi jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup.” - 2 Petrus 3:11
Ayat ini mengingatkan bahwa segala sesuatu yang kita lihat akan hancur. Ini mengajak kita untuk tidak terikat pada harta duniawi, melainkan mengutamakan hal-hal kekekalan. Ayat ini adalah ajakan untuk meninggalkan hidup dalam dosa dan berbalik pada gaya hidup yang berkenan kepada Tuhan. Ini mencakup tindakan, perkataan, dan pikiran. Hari Tuhan akan datang seperti pencuri. Fokus kita bukanlah kapan waktunya, melainkan bagaimana kondisi kita saat Dia datang?Kita dipanggil untuk aktif membangun karakter yang serupa dengan Kristus, sehingga kita menjadi murid Kristus dan jadi saksiNya.
Tuhan Yesus Memberkati.

Titik awal perjalanan kita sebagai seorang Kristen dimulai dengan pertobatan. Tentunya masih terukir di hati kita bagaimana kita berpaling dari dosa kita dan berbalik kepada Tuhan. Ia memberikan hidup yang baru kepada kita. Sejak saat itu, Dia memulai pekerjaan-Nya di dalam kita untuk membentuk dan menyucikan hidup kita (sanctification).
Penyucian hidup tidaklah mungkin tanpa hati yang mau diubahkan. Penyucian hidup tidaklah mungkin tanpa pertobatan. Pertobatan bukanlah hanya pintu masuk menuju keselamatan. Pertobatan adalah irama kehidupan seorang percaya. Pertobatan bukanlah sekedar merasa bersalah atas dosa. Pertobatan adalah kerendahan hati untuk terus kembali kepada Tuhan berulang kali. Dia mengarahkan kembali keinginan, pikiran, dan hidup kita.

Kabar baiknya adalah kita tidak dibiarkan berubah dengan kekuatan kita sendiri. Tuhan sendiri yang bekerja di dalam kita. Seperti yang tertulis dalam Ibrani 13:20–21, Allah-lah yang “mengerjakan di dalam kamu apa yang berkenan kepada-Nya.” Penyucian hidup adalah pada akhirnya adalah pekerjaan Allah di dalam kita. Kita tidak sedang berusaha mendapatkan penerimaan Tuhan; kita sedang merespons anugerah yang sudah Dia berikan.
Namun pada saat yang sama, Roh Kudus mengundang kita untuk berjalan bersama-Nya. Pertobatan menjadi nyata ketika kita merespons suara-Nya. Kita membuka hati kita kepada Firman-Nya, serta mengijinkan Firman-Nya menyelidiki hati kita dan menunjukkan apa yang perlu diubah (Ibrani 4:12). Lalu kita menyerahkan diri kepada Roh Kudus, yang dengan lembut menuntun kita ke dalam kebenaran dan terus mengarahkan kita kembali kepada Kristus (Yohanes 16:13–14). Sering kali pekerjaan Roh Kudus terjadi dengan tenang namun terus-menerus. Ia mendorong kita untuk mengampuni, mengakui dosa, melepaskan kesombongan, dan memilih ketaatan dalam hal-hal kecil namun berarti.

Itulah sebabnya Alkitab memanggil kita untuk mempersembahkan hidup kita kepada Allah sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenanan kepada-Nya, serta berubah oleh pembaruan budi kita (Roma 12:1–2). Penyucian hidup membutuhkan hati yang mau dan rela untuk bertobat. Perubahan memang bisa terasa tidak nyaman, bahkan kadang terasa berat. Tetapi ketika kita terus kembali kepada Tuhan dalam pertobatan, ketika kita berhenti melawan dan mulai menyerahkan diri, kita akan menemukan bahwa Dia sabar dan setia. Langkah demi langkah, hari demi hari, Dia membentuk hidup kita semakin serupa dengan Kristus. Dan apa yang dulu terasa sulit perlahan menjadi kehidupan yang dipenuhi oleh anugerah, kerendahan hati, dan kasih yang semakin dalam kepada-Nya. Hidup kita diubahkan, berbuah, dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.
Amin!

Selama dosa masih ada didunia, manusia tidak akan berhenti ditawarkan melakukan dosa. Pilihan ada pada kita masing-masing. Apakah kita mau mendekat kepada Tuhan atau menjauh. Yakobus 4:8 berkata:“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!”
Salah satu akibat seseorang yang tidak mendekatkan diri kepada Tuhan adalah kurang memahami firman Tuhan. Masih ingat Hawa? Ular itu berkata kepada Hawa: ”Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Ular menguji pengetahuan firman yang ada pada Hawa. Hawa menjawab: “… Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” Sedangkan Perintah Allah adalah: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:16b-17).

Kesalahan pada Hawa adalah ia tambahkan dengan kalimat: “ataupun raba buah itu”. Dengan begitu iblis mengetahui jelas bahwa Hawa tidak mengerti betul maksud perintah Tuhan. Sehingga ular dengan mudah meyakinkan Hawa untuk memakan buah terlarang itu. Hawa tergiur, memakannya, dan memberikan kepada Adam.
Inilah dosa yang menghambat terjadinya revival dalam kehidupan orang percaya. Diawali dari perenungkan firman Tuhan yang tidak dilakukan dengan konsisten, sungguh-sungguh, atau bahkan secara tidak sadar sudah menjauhkan diri dari membaca alkitab setiap hari. Tidak ada waktu lagi. Sibuk dengan urusan lain yang dianggapnya lebih penting dari pada “berjaga-jaga satu jam saja”. “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Matius 26:41. “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Yohanes 15:6.

Mari, Wanita-wanita kekasih Tuhan. Ingat, dosa pertama manusia bukan jatuh pada Adam, tetapi pada seorang wanita. Kita memang diciptakan Tuhan sangat komplex. Kita sanggup melakukan multi-task, banyak hal secara bersamaan. Namun, jangan mendua hati, jangan jauhkan diri dari perenungan firman Tuhan setiap hari. Buanglah jauh-jauh dan jangan biarkan kebiasaan buruk ini menjadi dosa yang menghambat untuk terjadinya kebangunan rohani dalam diri kita.
Tuhan Yesus memberkati!

