Titik awal perjalanan kita sebagai seorang Kristen dimulai dengan pertobatan. Tentunya masih terukir di hati kita bagaimana kita berpaling dari dosa kita dan berbalik kepada Tuhan. Ia memberikan hidup yang baru kepada kita. Sejak saat itu, Dia memulai pekerjaan-Nya di dalam kita untuk membentuk dan menyucikan hidup kita (sanctification).
Penyucian hidup tidaklah mungkin tanpa hati yang mau diubahkan. Penyucian hidup tidaklah mungkin tanpa pertobatan. Pertobatan bukanlah hanya pintu masuk menuju keselamatan. Pertobatan adalah irama kehidupan seorang percaya. Pertobatan bukanlah sekedar merasa bersalah atas dosa. Pertobatan adalah kerendahan hati untuk terus kembali kepada Tuhan berulang kali. Dia mengarahkan kembali keinginan, pikiran, dan hidup kita.

Kabar baiknya adalah kita tidak dibiarkan berubah dengan kekuatan kita sendiri. Tuhan sendiri yang bekerja di dalam kita. Seperti yang tertulis dalam Ibrani 13:20–21, Allah-lah yang “mengerjakan di dalam kamu apa yang berkenan kepada-Nya.” Penyucian hidup adalah pada akhirnya adalah pekerjaan Allah di dalam kita. Kita tidak sedang berusaha mendapatkan penerimaan Tuhan; kita sedang merespons anugerah yang sudah Dia berikan.
Namun pada saat yang sama, Roh Kudus mengundang kita untuk berjalan bersama-Nya. Pertobatan menjadi nyata ketika kita merespons suara-Nya. Kita membuka hati kita kepada Firman-Nya, serta mengijinkan Firman-Nya menyelidiki hati kita dan menunjukkan apa yang perlu diubah (Ibrani 4:12). Lalu kita menyerahkan diri kepada Roh Kudus, yang dengan lembut menuntun kita ke dalam kebenaran dan terus mengarahkan kita kembali kepada Kristus (Yohanes 16:13–14). Sering kali pekerjaan Roh Kudus terjadi dengan tenang namun terus-menerus. Ia mendorong kita untuk mengampuni, mengakui dosa, melepaskan kesombongan, dan memilih ketaatan dalam hal-hal kecil namun berarti.

Itulah sebabnya Alkitab memanggil kita untuk mempersembahkan hidup kita kepada Allah sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenanan kepada-Nya, serta berubah oleh pembaruan budi kita (Roma 12:1–2). Penyucian hidup membutuhkan hati yang mau dan rela untuk bertobat. Perubahan memang bisa terasa tidak nyaman, bahkan kadang terasa berat. Tetapi ketika kita terus kembali kepada Tuhan dalam pertobatan, ketika kita berhenti melawan dan mulai menyerahkan diri, kita akan menemukan bahwa Dia sabar dan setia. Langkah demi langkah, hari demi hari, Dia membentuk hidup kita semakin serupa dengan Kristus. Dan apa yang dulu terasa sulit perlahan menjadi kehidupan yang dipenuhi oleh anugerah, kerendahan hati, dan kasih yang semakin dalam kepada-Nya. Hidup kita diubahkan, berbuah, dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.
Amin!

Selama dosa masih ada didunia, manusia tidak akan berhenti ditawarkan melakukan dosa. Pilihan ada pada kita masing-masing. Apakah kita mau mendekat kepada Tuhan atau menjauh. Yakobus 4:8 berkata:“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!”
Salah satu akibat seseorang yang tidak mendekatkan diri kepada Tuhan adalah kurang memahami firman Tuhan. Masih ingat Hawa? Ular itu berkata kepada Hawa: ”Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Ular menguji pengetahuan firman yang ada pada Hawa. Hawa menjawab: “… Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” Sedangkan Perintah Allah adalah: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:16b-17).

Kesalahan pada Hawa adalah ia tambahkan dengan kalimat: “ataupun raba buah itu”. Dengan begitu iblis mengetahui jelas bahwa Hawa tidak mengerti betul maksud perintah Tuhan. Sehingga ular dengan mudah meyakinkan Hawa untuk memakan buah terlarang itu. Hawa tergiur, memakannya, dan memberikan kepada Adam.
Inilah dosa yang menghambat terjadinya revival dalam kehidupan orang percaya. Diawali dari perenungkan firman Tuhan yang tidak dilakukan dengan konsisten, sungguh-sungguh, atau bahkan secara tidak sadar sudah menjauhkan diri dari membaca alkitab setiap hari. Tidak ada waktu lagi. Sibuk dengan urusan lain yang dianggapnya lebih penting dari pada “berjaga-jaga satu jam saja”. “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Matius 26:41. “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Yohanes 15:6.

Mari, Wanita-wanita kekasih Tuhan. Ingat, dosa pertama manusia bukan jatuh pada Adam, tetapi pada seorang wanita. Kita memang diciptakan Tuhan sangat komplex. Kita sanggup melakukan multi-task, banyak hal secara bersamaan. Namun, jangan mendua hati, jangan jauhkan diri dari perenungan firman Tuhan setiap hari. Buanglah jauh-jauh dan jangan biarkan kebiasaan buruk ini menjadi dosa yang menghambat untuk terjadinya kebangunan rohani dalam diri kita.
Tuhan Yesus memberkati!

